Sekitar 15 menit sempat terdiam sambil melototin layar yang ada dihadapan saya, ceritanya make sure pada diri sendiri apakah saya siap mereview buku ini? Hahaha… yep, belum lama ini saya baca bukunya Mitch Albom yang The First Phone Call From Heaven. Actually buku ini sudah terbit di tahun 2013, tapi saya baru sempat beli akhir tahun kemarin. Setelah beberapa hari mencuri waktu untuk membabat habis si buku..well, sesungguhnya ini memang bukanlah bentuk review buku yah, tapi lebih ke sisi afeksi saya setelah membaca buku tersebut. Jujur paling gak bisa bikin sinopsis, tapi intinya buku ini menceritakan fenomena aneh yang terjadi disebuah kota kecil di Michigan, dimana beberapa orang telah ditelpon dari surga oleh anggota keluarga mereka yang sudah meninggal dunia. Sekejap merinding. Nope, bukan takut. Tapi merinding karena kedua orang tua saya pun sudah tiada, lalu mengkhayal gimana seandainya hal itu truly happened with me. Balik lagi kebuku, Albom berhasil mengajak saya untuk melintasi taman pikirannya . Selama membaca, selalu menerka-nerka, ah ini hoax atau benar adanya kah ? Makanya bacanya pun gak jenuh. Dari sekian banyak tokoh fiktif yang ada didalam buku ini, saya lebih suka arc tokoh Sully, i feel like i’m in his shoes. Secara singkat, Sully yang sudah kehilangan istri hingga masuk penjara dan juga kehilangan pekerjaannya, kini harus melanjutkan hidup bersama anaknya. Kemudian hingga suatu hari Sully mendapatkan telpon misterius yang mengaku bahwa itu adalah istrinya yang menghubunginya dari surga. Saya suka bagaimana Sully dengan struggle berusaha untuk memecahkan misteri telpon surga tersebut, endingnya bitter sweet sekali.
You have to start over. That’s what they say. But life is not a board game, and losing a loved one is never really “starting over”. More like “continuing without”.
Kehilangan seseorang yang kita cinta itu memang seperti seakan hidup terasa kosong, tidak tahu harus bagaimana kedepannya. Bagi sebagian orang, ada yang tidak bisa melawan perasaan sedihnya, sehingga yang timbul adalah depresi. Namun sebagian orang lainnya ada yang tetap melanjutkan hidup meskipun terasa berat. Dan benar, hidup itu memang bukan sebuah permainan. Tapi hidup itu memang seperti skenario permainan ya, dan kita sebagai pemain utamanya. Kita bisa tentukan sendiri ingin starting dari mana untuk bisa sampai ketahap finish. Every different beginning will give you a different ending. Dan selama menjalani permainan ini, bukannya tidak mungkin banyak terjadi ujian dan tantangan. Itu sudah pasti terjadi. Now for every beginning you take, hopefully can give you a happy berry ending
Plan for buy another Albom’s tale.